Minggu, 07 Oktober 2012

DEFINISI PELABUHAN PERIKANAN


DEFINISI PELABUHAN PERIKANAN

1). Pelabuhan perikanan adalah kawasan perpaduan antara daratn dan lautan, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk dipergunakan sebagai pangkalan penangkapan ikan dan merupakan pintu gerbang untuk memudahkan keluar-masuknya kapal-kapal perikanan. di samping itu, diperlengkapi dengan berbagai fasilitas untuk membongkar ikan dari kapal ke daratan maupun persiapan kapal untuk melakukan penangkapan ke laut.

 2). Pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, dan /atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan. 3).  Pelabuhan adalah daerah perairan yang terlindung dari gelombang yang dilengkapi dengan fasilitas terminal laut yang meliputi dermaga tempat kapal dapat bertambat untuk melakukan bongkar muat barang dan sebagai tempat penyimpanan untuk menunggu keberangkatan berikutnya (Bambang Triatmono, 2002). 4).  Pelabuhan perikanan adalah suatu kawasan perikanan yang berfungsi sebagai tempat labuh kapal perikanan, tempat pendaratan ikan, tempat pemasaran, tempat pelaksanaan pembinaan mutu hasil perikanan, tempat pengumpulan data tangkapan, tempat pelaksanaan penyuluhan serta pengembangan masyarakat nelayan dan tempat untuk memperlancar operasional kapal perikanan (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, 2005). 5). Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per.16/Men/2006 tentang Pelabuhan Perikanan, pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh dan/atau bongkar-muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra- dan antarmoda transportasi. 6). Menurut Direktorat Jenderal Perikanan (1994) pelabuhan perikanan merupakan prasarana yang mendukung peningkatan pendapatan petani nelayan sekaligus mendorong investasi dalam bidang perikanan. Fungsi pelabuhan perikanan dalam arti luas adalah sebagai pusat pengembangan ekonomi perikanan dalam bidang produksi, pengolahan dan pemasaran. 7). Pelabuhan Perikanan digolongkan sebagai pelabuhan khusus. Pelabuhan khusus yaitu pelabuhan yang penggunaannya khusus untuk aktivitas perindustrian, pertambangan atau pertanian dalam arti yang luas dimana pembangunan & pengoperasiannya dilakukan oleh instansi yang bersangkutan, contoh bongkar muat barang-barang (bahan baku/hasil produksi/hasil ekploitasi) yang tidak dapat ditampung oleh pelabuhan umum. 8). Pelabuhan Perikanan adalah suatu wilayah perpaduan antara daratan dan lautan yang dipergunakan sebagai pangkalan untuk kegiatan penangkapan ikan dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas sejak ikan didaratkan sampai dengan ikan didistribusikan (Dephub, 1983). 9). Pelabuhan Perikanan adalah suatu kawasan perairan yang tertutup atau terlindung dan cukup aman dari pengaruh angin dan gelombang laut, diperlengkapi dengan berbagai fasilitas logistik, bahan bakar, perbengkelan dan pengangkutan barang-barang. (Alonze de F. Quin dalam W.J. Guckian, 1970). 10). Pelabuhan menurut Kamus Peristilahan Survey dan Pemetaan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan sekitar pemerintahan dan kegiatan-kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh,naik turun penumpang dan atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra-moda dan antar moda transportasi (Dishidros). 11). Direktorat Jendral Perikanan (1981) mendefinisikan pelabuhan yaitu pelabuhan khusus yang merupakan pusat pengembangan ekonomi perikanan dilihat dari aspek produksi, pengolahan, dan pemasaran ikan.12). Pelabuhan Perikanan menurut UU No.31 tahun 2004  adalah tempat yang terdiri atas daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, dan atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan.

Konsep PPDPI


Konsep PPDPI

Salah satu upaya untuk memberikan jalan baru bagi permasalahan diatas adalah dengan pemanfaatan Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (biasa disebut PPDPI). Pembuatan PPDPI untuk wilayah Indonesia, merupakan kegiatan yang telah dirintis sejak tahun 2000 oleh Departemen Kelautan Perikanan - RI. Upaya ini bertujuan untuk membantu aktivitas penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan, terutama dalam hal penghematan bahan bakar minyak (bbm) yang digunakan selama operasi penangkapan ikan, dimana pada umumnya para nelayan hanya mengandalkan naluri dan pengalaman dalam mendeteksi area yang diperkirakan banyak ikan, sehingga hal ini tentunya dapat menyebabkan inefisiensi energi (bahan bakar, tenaga), boros waktu, dan hasil tangkapan yang relatif rendah. Oleh karena itu, paradigma “berburu” untuk menangkap ikan sudah harus mulai diubah menjadi paradigma “mengambil” dengan bantuan teknologi citra satelit oseanografi tersebut.


Gambar 2. Skema Proses Pengolahan Data Satelit untuk Analisa PPDPI
(Sumber: BROK-DKP, 2007)

PPDPI itu sendiri adalah salah satu produk peta tematik kelautan yang memanfaatkan penggabungan data-data parameter oseanografi (suhu permukaan laut, produktivitas primer, ketinggian permukaan laut, arus, salinitas) baik data dari satelit oseanografi maupun data-data pada stasiun pengamatan untuk menganalisa daerah potensi penangkapan ikan. Hal ini didukung oleh tersedianya fasilitas data-data satelit oseanografi yang bebas penggunaan dan bersifat near real time. Dan sebagai tambahan, data pengamatan lapangan dan prediksi seperti data-data meteorologi (kecepatan angin, arah angin, gelombang laut) oleh Instansi seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) atau Dinas Kelautan Perikanan (DKP) untuk informasi keselamatan pelayaran.

Pembuatan peta dapat dilakukan secara rutin karena akses data utama yang near real time salah satunya pada citra Satelit Terra dan Aqua (MODIS/ Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) oleh Instansi NASA melalui url berikut (http://oceancolor.gsfc.nasa.gov/modis/). Pembuatan peta ini berdasarkan informasi yang didapat dari data oceancolor dari MODIS, data suhu permukaan laut dari sensor advance very high resolution radiometer (avhrr), suhu permukaan laut dari sensor amsr and tmi, ketinggian permukaan laut, klorofil-a, dan kecepatan ketinggian permukaan laut serta data arah dan kecepatan angin dan gelombang laut. Berdasarkan informasi-informasi dari data tersebut, dapat diinterpretasikan menjadi daerah penangkapan ikan dan daerah yang berpotensi menjadi daerah penangkapan ikan. Selanjutnya informasi daerah penangkapan ikan dan daerah yang berpotensi menjadi daerah penangkapan ikan tersebut dikemas menjadi suatu bentuk peta yang lengkap dengan atribut-atributnya, sehingga memudahkan penggunaannya (BROK-DKP, 2007).



Gambar 3. Contoh Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan wilayah Perairan Sumatera
(Sumber: BROK – DKP, 2009).

Didalam PPDPI terkandung informasi koordinat lintang bujur daerah yang diduga sebagai daerah penangkapan ikan dan daerah yang diduga berpotensi sebagai daerah penangkapan ikan. Dengan adanya informasi tersebut, nelayan berbekal alat navigasi Global Positioning System (GPS), dapat langsung menuju titik koordinat yang disebutkan pada peta. Kemudian dengan bantuan alat tambahan, seperti fish finder dan fishery sonar, nelayan dapat berputar pada radius tertentu di sekitar titik tersebut untuk memonitor persebaran ikan dan menangkap ikan.

Gambar 4. Peralatan Pendukung untuk Penetuan Posisi dan Monitor Densitas Potensi Ikan
(Sumber: BROK – DKP, 2007).



Penerapan Data Satelit Oseanografi

Bagi nelayan negara maju seperti Jepang, Islandia, Kanada dan Norwegia, pemakaian data satelit oseanografi yang menampilkan citra Suhu Permukaan Laut (SPL) dan sebaran klorofil merupakan hal rutin dan baku untuk memudahkan mereka mencari daerah tangkapan ikan potensial. Disamping itu pemakaian teknologi maju sekalipun sudah baku, seperti GPS sebagai alat bantu navigasi yang dapat memandu mereka mencari lokasi yang ditunjukkan citra satelit oseanografi. Aplikasi citra satelit oseanografi yang sudah menjadi kebutuhan dasar nelayan modern di negara maju, masih merupakan barang mahal dan sulit terjangkau bagi sebagian besar nelayan kita. Walaupun sebenarnya data tersebut telah tersedia dengan melimpah di media internet, dan hanya diperlukan pengetahuan praktis sederhana membaca citra satelit untuk mengenali daerah tangkapan ikan dari analisa faktor-faktor oseanografi perairannya.



Pengembangan PPDPI dan Pengelolaan Sektor Kelautan Perikanan

Melalui sedikit tulisan ini, Penulis berharap kepada Pemerintah Provinsi Bangka Belitung agar dapat segera memulai upaya penerapan dan pengembangan PPDPI ini dengan berbasis pemberdayaan masyarakat pesisir guna meningkatkan kesejahteraan para nelayan khususnya, baik melalui DKP atau PemDa-PemDa setempat dan tentunya pengembangan di bidang riset terapan pun tak kalah pentingnya baik oleh DKP melalui Program BOOST (BABEL Ocean Observation Science and Technology Center) maupun para peneliti pada Jurusan Perikanan – Universitas Bangka Belitung guna dapat berkontribusi lebih dalam menyiapkan perbaikan akurasi PPDPI skala lokal, informasi basis data, pola persebaran (migrasi) ikan dan dapat juga kearah analisa ketersediaan stok sumber daya perikanan Bangka Belitung karena sedikit tidak hal ini adalah menjadi tanggung jawab dan kewajiban kita bersama terutama putra/putri daerah demi meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan rakyat.

Akan tetapi eksploitasi dan pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan haruslah tetap berpedoman terhadap Visi Pembangunan Kelautan dan Perikanan yaitu ”Pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara lestari dan bertanggung jawab bagi kesatuan dan kesejahteraan anak bangsa”. Mari memaksimalkan hasil potensi sumber daya lingkungan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup dan ekosistem yang ada sebagai aset berharga bagi keberlangsungan kehidupan bawah laut dan sekitarnya. Dan tentunya semoga para nelayan setempat dapat memiliki/dibekali pengetahuan dalam membaca PPDPI sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan memaksimalkan potensi sumber daya yang ada tanpa harus kecolongan lagi oleh nelayan asing. Semoga!!!


DAFTAR PUSTAKA

  • BROK-SeaCORM, 2007. Perkembangan PPDPI di Wilayah Perairan Indonesia tahun 2004-2006. BROK – DKP.
  • DKP – BABEL, 2008. Pentingya Data Oseanografi bagi Pembangunan Pesisir dan Lautan di Provinsi Bangka Belitung. Makalah PIT-ISOI V, ITB, Bandung.
  • PusLit LIPI, 2003. Penelitian Kompetitif Kalimantan Timur-Bangka Belitung 2004-2013.pdf (diakses pada 6 September 2008).
  • Thoha, Hikmah. 2004. Kelimpahan Plankton di Perairan Bangka Belitung dan Laut Cina Selatan, Sumatera, Mei-Juni 2002. Makara Sains, Vol. 8. No. 3.


Daftar Istilah pada Tulisan 

  • Arus : gerakan air yang menyebabkan terjadinya perpindahan massa air secara horizontal (datar).
  • Atribut : informasi pelengkap pada peta.
  • Citra : gambaran rekaman suatu objek (biasanya berupa suatu gambaran pada foto) yang didapat dengan cara optik, elektro optik, optik mekanik atau elektronik.
  • Deteksi : serapan dari bahasa Inggris “detection” yang berarti penemuan.
  • Eksploitasi : serapan dari bahasa Inggris “exploitation” yang berarti pemanfaatan.
  • Ekosistem : keseluruhan sistem komunitas biotik dan lingkungan non biotik yang saling terkait satu sama lain.
  • Fitoplankton : jenis dari plankton (tumbuhan) yaitu organisme berukuran mikro yang hidupnya bebas mengapung atau hanyut diperairan laut terbuka yang gerakannya ditentukan oleh sifat gerakan air.
  • Fish finder : teknologi akustik kelautan untuk mendeteksi besarnya gerombolan ikan pada lokasi yang ditunjukkan pada peta zona potensi ikan.
  • Fisheries Sonar : fungsi sama dengan fish finder tetapi kualitasnya lebih tinggi terutama luasan sudut deteksinya yang mencapai 180 derajat sedangkan fish finder hanya 7-15 derajat.
  • Geografis : dari kata “geografi” yang berarti sesuatu yang merujuk pada pola persebaran horizontal dari permukaan bumi, imbuhan –is menyatakan sifat.
  • Indikasi : serapan dari bahasa Inggris “indication” yang berarti petunjuk atau tanda.
  • Inefisiensi : tidak efisien.
  • Interpretasi : serapan dari bahasa Inggris “interpretation” yang berarti penjelasan secara lisan/ penerangan.
  • Illegal fishing : istilah dalam bahasa Inggris yang berarti penangkapan ikan yang tidak mematuhi aturan yang berlaku.
  • Kandidat : serapan dari bahasa Inggris “candidate” yang berarti calon.
  • Klorofil-a : salah satu jenis pigmen (zat warna) hijau pada tumbuhan yang memungkinkan tumbuhan melakukan sintesis bahan-bahan organik dari atmosfer dan air melalui fotosintesis.
  • Koordinat : bilangan yg dipakai untuk menunjukkan lokasi suatu titik dl garis, permukaan, atau ruang.
  • Musim timur : musim yang berlangsung antara bulan Juni – Agustus, yang dicirikan oleh bertiupnya angin Monsoon Tenggara (Southeast Monsoon) akibat tekanan udara di Asia lebih kecil daripada di Australia, biasa dikenal diIndonesia sebagai musim kemarau.
  • Meteorologi : ilmu yang mempelajari interaksi atmosfer dalam mempengaruhi cuaca.
  • Monitor : bahasa Inggris yang berarti mengawasi.
  • Navigasi : ilmu yang mempelajari tentang pelayaran.
  • Nutrisi : gizi makan yang terkandung.
  • Near real time : istilah dalam bahasa Inggris yang berarti mendekati tepat waktu.
  • Organisme : makhluk hidup yang terdiri atas tumbuhan maupun hewan dalam berbagai ukuran.
  • Oseanografi : ilmu yang mempelajari lautan (fisika, kimia, biologi, dan geologi laut).
  • Paradigma : dalam disiplin intelektual adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).
  • Parameter : ukuran seluruh populasi dl penelitian yg harus diperkirakan dr yg terdapat di dl percontoh.
  • Peta : bayangan/gambaran yang diperkecil dari sebagian besar atau sebagian kecil permukaan bumi pada bidang datar dengan skala dan sistem proyeksi tertentu.
  • Peta Tematik : peta yang menyajikan unsur-unsur tertentu dari permukaan bumi sesuai dengan topik atau tema dari peta bersangkutan.
  • Produktivitas primer : jumlah bahan organik yang dihasilkan oleh organisme dari bahan anorganik pada suatu volume air tertentu dan suatu waktu tertentu.
  • Radius : bahasa Inggris yang berarti jari-jari lingkaran, jarak sekeliling.
  • Salinitas :indeks jumlah total zat terlarut dalam air laut.
  • Satelit : benda yang mengorbit benda lain dengan periode revolusi dan rotasi tertentu. Ada dua jenis satelit yakni satelit alam dan satelit buatan, sedangkan dalam tulisan ini satelit buatan.
  • Riset : serapan dari bahasa Inggris “research” yang berarti penelitian.
  • Visual : dari bahasa Inggris yang di Indonesiakan yang berarti berdasarkan penglihatan.
 








PETA PRAKIRAAN DAERAH PENANGKAP IKAN untuk Kesejahteraan Nelayan Bangka Belitung (bagian 1)


PETA PRAKIRAAN DAERAH PENANGKAP IKAN
 untuk Kesejahteraan Nelayan Bangka Belitung (bagian 1)

Menurut laporan LIPI (2003), pemanfaatan hasil potensi laut Bangka Belitung masih minim dimana yang baru termanfaatkan hanya sekitar 25% dari potensi produksi sumber daya perikanan tangkap yang mencapai 499.500 ton/tahun dan menjadi masalah yang belum terkelola dengan baik hingga saat ini. Selain itu, praktek penambangan timah di pulau Bangka (terutama daerah sekitar perairan terumbu karang) juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penurunan kualitas lingkungan perairan di sekitarnya. Hal ini diperparah lagi dengan praktek illegal fishing oleh nelayan asing sehingga sumber daya kita dijarah dengan seenaknya oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut. Dan wilayah sumber daya perairan yang luas dan potensi yang tersebar tentunya sangat membutuhkan semacam alat bantu yang dapat menggali potensi daerah tangkapan dan memberikan informasi lokasi penangkapan kepada para nelayan yang umumnya hanya nelayan wilayah pesisir (tidak jauh dari tepi pantai).

Bangka Belitung adalah provinsi yang kaya akan hasil sumber daya alam (SDA) -nya, hingga saat ini eksploitasi utama SDA nya yang masih tetap berjalan dan menjadi sumber Anggaran Pendapatan Belanja Daerah-nya adalah dari bidang pertambangan yaitu timah, ironisnya banyak pakar yang memprediksi bahwa stok timah sendiri akan habis dalam beberapa tahun ke depan. Secara logis, hal ini wajar dikarenakan timah termasuk jenis sumber daya yang tak terbaharukan (non renewable resources) atau sumber daya membutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses pengembalian ketersediaan stoknya apalagi sudah mulai dieksploitasi sejak abad ke -13 silam.


Sedangkan jika kita boleh bercermin dan sadar akan kenyataan secara geografis, bahwa provinsi ini adalah provinsi kepulauan dimana luas wilayah lautnya mencapai 80% dari total luas wilayahnya (DKP – BABEL, 2008). Belum lagi ditambah dengan potensi laut perbatasan yang merupakan bagian paling selatan dari laut Cina Selatan (wilayah perairan BABEL) yang kaya akan ikan. Dari sisi nutrien air laut bagi kebutuhan organisme didalamnya, perairan Bangka-Belitung dan Laut Cina Selatan masih memiliki kualitas yang baik. Menurut Thoha (2004), dari hasil pengukuran kepadatan fitoplankton pada awal musim timur tahun 2002 disimpulkan bahwa perairan muara memiliki kepadatan lebih tinggi jika dibandingkan dengan perairan terbuka (perairan Bangka Belitung). Dari beberapa informasi tersebut, mengindikasikan bahwa sektor perikanan dan kelautan dapat menjadi kandidat sektor andalan masa depan negeri Laskar Pelangi ini.


Gambar 1. Peta Pusat Ruang Kelautan dan Kawasan Andalan Laut Nasional
(Sumber: DKP – BABEL, 2007)

Menurut laporan LIPI (2003), pemanfaatan hasil potensi laut Bangka Belitung masih minim dimana yang baru termanfaatkan hanya sekitar 25% dari potensi produksi sumber daya perikanan tangkap yang mencapai 499.500 ton/tahun dan menjadi masalah yang belum terkelola dengan baik hingga saat ini. Selain itu, praktek penambangan timah di pulau Bangka (terutama daerah sekitar perairan terumbu karang) juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penurunan kualitas lingkungan perairan di sekitarnya. Hal ini diperparah lagi dengan praktek illegal fishing oleh nelayan asing sehingga sumber daya kita dijarah dengan seenaknya oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut. Dan wilayah sumber daya perairan yang luas dan potensi yang tersebar tentunya sangat membutuhkan semacam alat bantu yang dapat menggali potensi daerah tangkapan dan memberikan informasi lokasi penangkapan kepada para nelayan yang umumnya hanya nelayan wilayah pesisir (tidak jauh dari tepi pantai).